Barangsiapa yang mendapati suatu perselisihan, maka ia harus berpegang dengan Sunnah Nabi shallalla

  • Saya tidak mengatakan diri saya sebagai seorang ahli 'ilmu karena memang saya bukanlah ahlu 'ilmu, melainkan hanya penuntut 'ilmu . maka Janganlah engkau MENIMBA dan BERTANYA tentang 'ilmu kepadaku. Janganlah pula jadikan postingan-postingan saya sebagai rujukan 'ilmu bagi kalian. Tapi timbalah dan tanyalah 'ilmu kepada ahlinya. Apa-apa yang kupostingkan di website ini yang berisikan kebenaran, maka terimalah. Apa-apa yang bertentangan dengan kebenaran, maka tolaklah, dan luruskanlah dengan 'ilmu dan hujjah.

Waktu Sekarang WIB

Bukti Cinta

Di antara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya. Termasuk cinta kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat.

(Tafsiir Ibni Katsiir I/384)

Kamis, 28 Juni 2012

KARUNIA ALLAH


Sesuatu baru dapat dikategorikan sebagai karunia dari ALlah adalah manakala setelah kita mendapat sesuatu tersebut dapat membuat kita semakin dekat dengan Allah


Kita sadari ataupun tidak, kehidupan materialistis telah membuat kita lupa akan arti karunia Allah sebenarnya. Orientasi terhadap materi yang begitu tinggi mengubah perspektif kita terhadap karunia. Kita sering menganggap bahwa segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita berupa tambahan materi adalah sebuah karunia. Kenaikan gaji, kehidupan layak, jabatan yang dihormati oleh masyarakat, kedudukan yang terhormat, dsb seolah-olah itu adalah merupakan karunia oleh Allah. Sebenarnya, jika kita telah memperoleh satu atau - bahkan - semua hal diatas belum dapat dikatakan bahwa kita benar-benar telah mendapatkan karunia dari Allah. Lho kok?

Kita sebagai muslim harusnya mempunyai perspektif yang berbeda tentang karunia dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mengenal eksistensi Tuhan. Dan perspektif yang benar ini pulalah yang mendatangkan ketentraman dalam hidup kita dari persaingan semu yang hanya mendatangkan kepada kemudharatan.

Sesuatu baru dapat dikategorikan sebagai karunia dari ALlah adalah manakala setelah kita mendapat sesuatu tersebut dapat membuat kita semakin dekat dengan Allah. JIka sekarang kita telah bekerja di sebuah perusahaan ternama, kita baru dapat mengatakan bahwa hal tersebut adalah karunia dari Allah jika hubungan atau interaksi kita dengan Allah semakin dekat dibandingkan dengan sebelum kita bekerja di perusahaan tersebut. Jika setelah melakukan komparasi, rupanya kualitas ibadah kita dan interaksi kita dengan Allah semakin berkurang jika dibandingkan dengan sebelum kita bekerja maka kita patut waspada ! Jangan-jangan ini bukan merupakan nikmat dari Allah.

Ada banyak orang yang miskin yang begitu sabar dengan kemiskinannya, akan tetapi ketika kelapangan telah datang kepada mereka, mereka sudah mulai lupa dari mana mereka berasal sehingga interaksi mereka dengan ALlah pun amburadur. Lalu apakah kekayaan yang telah Allah berikan kepada mereka dapat kita katakan sebagai karunia sejati?

dalam hal lain, ada juga sekelompok orang kaya yang jauh dari interaksi dengan Allah. Tapi manakala musibah datang kepada mereka, dan mereka pun jatuh miskin, akan tetapi kemudian mereka bertaubat, dan interaksi mereka dengan Allah pun semakin dekat. Mereka sudah mulai melakukan ibadah yang sangat jarang sekali mereka lakukan kala mereka berada pada posisi berkecukupan. Inilah Karunia Sejati...!

Buat apa harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, penghasilan yang besar jika akhirnya hanya membuat kita jauh dari ALlah !

Buat apa juga kedudukan yang tinggi jika hanya melahirkan sifat sombong, padahal karena sifat itu pulalah Iblis diusir dari neraka, dan ALlah sudah menjanjikan tidak akan memasuki syurga seseorang yang masih tersimpan dalam hatinya rasa sombong

Yang kita butuhkan sekarang adalah, Karunia hakiki dari Allah, yang dengannya akan membuat kita semakin dekat dengan Allah

Jadi mulai sekarang, ketika kita menerima sesuatu, kita harus berdoa dan berharap kepada ALlah, agar dengannya kita semakin dekat dengan Allah



Jagalah Allah, Niscaya Allah jaga kamu



عَنْ عبدِ الله بنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما قالَ : كُنتُ خَلفَ النَّبيِّ - صلى الله عليه وسلم - فقال :(( يا غُلامُ إنِّي أعلِّمُكُ كَلماتٍ : احفَظِ الله يَحْفَظْكَ ، احفَظِ الله تَجِدْهُ تجاهَكَ ، إذا سَأَلْت فاسألِ الله ، وإذا استَعنْتَ فاستَعِنْ باللهِ ، واعلم أنَّ الأُمَّةَ لو اجتمعت على أنْ ينفعوك بشيءٍ ، لم ينفعوك إلاَّ بشيءٍ قد كَتَبَهُ الله لكَ ، وإنِ اجتمعوا على أنْ يَضرُّوكَ بشيءٍ ، لم يضرُّوك إلاَّ بشيءٍ قد كتبهُ الله عليكَ ، رُفِعَتِ الأقلامُ وجَفَّتِ الصُّحُفُ .
                                 [رواه الترمذيُّ ، وقال : حديثٌ حسنَ صَحيحٌ ]


Maksud hadith:

Dari Abdullah bin Abbas –radiyallahu anhuma- telah berkata: Adalah aku berada di belakang Nabi s.a.w., lalu baginda bersabda: Wahai budak! Sesungguhnya aku ingin mengajar kamu beberapa kalimah (ajaran agama): Jagalah Allah, (nescaya) Dia akan jaga kamu. Jagalah Allah (nescaya ) kamu akan dapati Dia di hadapan kamu. Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah, apabila kamu memohon bantuan maka mohonlah kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jikalau seluruh umat berkumpul untuk memberi sesuatu manfaat kepada kamu, nescaya mereka tidak berupaya untuk memberi manfaat kepada kamu melainkan apa yang telah di tetapkan oleh Allah kepada kamu. Dan sekiranya umat berkumpul untuk memudaratkan kamu, nescaya mereka tidak mampu memudaratkan kamu melainkan apa yang telah di takdirkan Allah ke atas kamu. Telah di angkat pena-pena dan telah di tetapkan takdir-takdir.          [HR Al-Tirmiziy –Dan beliau berkata: hadith ini Hasan soheh]

Pengajaran hadith:

1.      Abdullah bin Abbas ketika kisah ini berlaku  masih kecil iaitu kurang dari sepuluh tahun. Ketika ini beliau menaiki unta bersama Rasulullah s.a.w. di bahagian belakang.
2.      Ini menunjukkan Rasulullah s.a.w.  mesra kanak-kanak. Walaupun baginda seorang pemimpin agung dan RasuluLLah, tetapi baginda tidak segan untuk berkenderaan bersama kanak-kanak bahkan baginda pernah solat sambil mendukung cucu baginda Umamah. Baginda juga berhenti   berkhutbah apabila melihat cucu-cucunya Hasan dan Husin merangkak, lalu turun dari mimbar untuk mengambil dan mendukung mereka sambil meneruskan khutbah.
3.      Rasulullah s.a.w. adalah murabbi yang terbaik, baginda tidak pernah membuang masa dan peluang yang ada melainkan akan menggunakannya untuk mengajar dan mendidik manusia.
4.      Waktu dan peluang yang paling sesuai dan berkesan untuk mendidik ialah ketika kanak-kanak iaitu ketika jiwa kanak-kanak masih bersih dari kekotoran dan hati  masih lembut.
5.      Proses pendidikan tidak semestinya berlaku secara formal atau di dalam kelas atau masjid sahaja. Tetapi ia boleh berlaku secara informal tanpa mengira waktu atau tempat. Ketika berkenderaan, ketika makan, ketika sedang solat, ketika berkhutbah, di waktu tengah malam dan sebagainya.
6.      Perkara yang asas dan paling penting dalam pendidikan ialah akidah. Rasulullah mengajar kanak-kanak akidah yang penting iaitu jaga hukum Allah, maka Allah akan jaga keselamatan dan keamanan kamu.
7.      Hadith ini merangkumi asas-asas penting dalam agama sehingga kata sebahagian ulama: Aku memerhati dalam hadith ini, maka ianya sungguh menakjubkan dan hampir-hampir menjadikan aku bingung. Oh alangkah dukacitanya disebabkan kejahilan dan kurangnya kefahaman manusia tentang maksud hadith ini.
8.      Maksud  "Jagalah Allah .." ialah jaga segala hukum agama dengan mengikut segala  perintah Allah dan meninggal segala larangan-Nya.. Barangsiapa yang melaksanakan perintah Allah dan meninggal segala larangan-Nya setakat yang termampu, maka ia akan di jamin keselamatan hidupnya, keluarganya, hartanya dan yang lebih penting daripada semua itu ialah imannya akan di jaga oleh Allah dalam apa keadaan sekalipun.
9.      Antara hukum Allah yang paling besar dan penting di pelihara ialah solat. Firman Allah ta'ala yang bermaksud :
" Jagalah kamu akan solat lima waktu dan solat pertengahan".
          [Al-Baqarah:238]
Sabda Rasulullah s.a.w. :Barangsiapa yang memelihara solat lima waktu, adalah baginya di sisi Allah janji untuk memasukkannya ke dalam syurga.  [HR Ahmad, Abu Daud, Al-Nasai'e, Ibn majah dan sohehkan oleh Ibn Hibban].
10.  Wajib juga menjaga anggota badan daripada melakukan perkara yang haram khususnya dua anggota utama iaitu mulut dan kemaluan (nafsu syahwat). Sabda Rasulullah s.a.w. :Barangsiapa menjaga apa yang di antara dua janggutnya (mulut) dan apa yang di antara dua kakinya (kemaluan), maka ia pasti  masuk syurga.
                        [Hadith soheh-Riwayat Al-Hakim, Al-Tirmiziy dan Ibn Hibban]
11. Wajib menjaga mata dan telinga daripada melihat dan mendengar perkara yang haram. Firman Allah ta'ala yang bermaksud:
Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka (daripada melihat perkara haram) dan hendaklah mereka menjaga kemaluan-kemaluan mereka.  [Al-Nur :30]
            Firman Allah ta'ala yang maksudnya:
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati-hati kesemuanya akan di persoalkan (tentang peranan masing-masing). [Al-Baqarah:235]
12. Maksud  "Allah menjaga kamu.."  ialah : Barangsiapa yang menjaga batas-batas agama, hak-hak Allah maka Allah akan menjaga dirinya, anak isteri, harta bendanya dan lebih penting daripada itu ialah Allah menjaga agama dan imannya.
13. Antara contoh-contoh mereka yang di jaga oleh Allah di semua keadaan ialah:.
i.                    Kisah Ashabul Kahf  yang tidur dengan nyenyak dan aman selama 390 tahun di dalam gua bersama anjing dan mereka ketika itu sedang di buru oleh musuh.
ii.                 Kisah Hajar dan Anaknya Nabi Ismail –alayhissalam-  yang di tinggalkan oleh Nabi Ibrahim –alayhissalam- di bumi yang kering kontang, tidak ada tempat tinggal, manusia, tumbuh-tumbuhan, makanan dan air. Tetapi mereka selamat di beri rezeki dan di jaga oleh Allah.
iii.               Kisah Nabi Yusof –alayhissalam- yang di campak ke dalam telaga oleh adik beradiknya ketika berumur 12 tahun, kemudian di pungut oleh pedagang dan di jual sebagai hamba, lalu di beli oleh al-Azizi (pembesar Negara). Setelah menjadi budak suruhan beliau di fitnah oleh isteri al-Aziz tetapi di pelihara oleh Allah dari fitnah tersebut. Friman Allah ta'ala yang bermaksud:
"….Demikianlah  (takdir Kami) untuk menjauhkan dari Yusof perkara-perkara yang tidak baik dan perbuatan  keji, kerana sesungguhnya ia adalah dari hamba-hamba Kami yang dibersihkan dari segala dosa.  [Yusof: 24]
Friman Allah ta'ala yang bermaksud:
"…….Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan nikmat-Nya ke atas kami. Sebenarnya sesiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak mensia-siakan  pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.    [Yusof: 90]   
iv.               Nabi Muhammad s.a.w dan Abu Bakar r.a. di pelihara oleh Allah daripada kejahatan musyrikin Makkah ketika berada dalam gua Thur bahkan Nabi s.a.w. merasa tenang dan selamat walaupun musuh berada di luar pintu gua. Firman Allah ta'ala:
Maksudnya : " Ketika mana Ia berkata kepada sahabatnya : Janganlah kamu bersedih kerana Allah bersama (menjaga) kita. [Al-Taubah:40]
14.  Antara contoh mereka yang tidak di jaga fizikalnya tetapi di jaga imannya ialah kisah Umar al-Khottob di saat kematiannya ketika di tikam, beliau masih mampu membaca ayat al-Quran dan bertanya tentang solat orang ramai seterusnya beliau mendirikan solat dan akhirnya beliau di beri syahid oleh Allah.

  1.  Kata  Mujahid: Tidak ada seorang hamba pun melainkan ada seorang malaikat yang menjaganya ketika tidur dan ketika sedarnya daripada jin, manusia dan binatang. Maka tidak datang sesuatu pun kepadanya  melainkan malaikat akan berkata: Itu di belakang kamu kecuali apa yang telah di di izinkan Allah. 
  2.  
16.       Rasulullah s.a.w juga tidak pernah meninggalkan doa ini pada waktu pagi dan petang: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau ‘afiah (keselamatan) di dunia dan di akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau kemaafan dan ‘afiah (keselamatan) pada agamaku, duniaku, ahli keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupkanlah auratku (keaibanku), amankanlah ketakutanku, peliharalah aku sama ada dari hadapanku, belakangku, kananku, kiriku dan atasku. Dan aku berlindung dengan kekuasaan-Mu daripada aku dikhianati daripada bawahku.” [Riwayat Ahmad]
17.       Allah s.w.t akan menjaga hamba mengikut kadar kesolehannya (kebaikannya di dunia) selepas dia mati pada zuriatnya sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: “Dan ibubapa mereka berdua adalah orang yang soleh…” [Al-Kahfi: 82] yang bermaksud: Mereka berdua dipelihara disebabkan kesolehan ibubapa mereka. Sa’id bin al-Musayyib berkata kepada anaknya: Aku akan tambahkan solat demi kerana engkau, dengan harapan aku dipelihara kerana engkau. ‘Umar bin Abdul Aziz berkata: Tidak ada seorang mu’min pun yang mati melainkan Allah akan menjaganya dan keturunannya selepas kematiannya.
18.       Maksud jagaan Allah: Allah akan menjaga agama dan iman hamba-Nya, dan Dia akan menjaga kehidupannya daripada terjebak ke dalam perkara yang syubhat dan menyesatkan, dan daripada syahwat yang haram, dan menjaga agamanya ketika dia mati, kemudian Allah mematikan dia di dalam iman.
19.       Di dalam al-Sahihain yang diriwayatkan oleh al-Barra’ bin al-‘Azib, Nabi s.a.w memerintahkannya untuk berdoa ketika hendak tidur: “Sekiranya Engkau pegang jiwaku maka rahmatilah ia. Sekiranya Engkau lepaskannya maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang soleh.”
20.       Nabi s.a.w pernah mengajar ‘Umar di dalam satu hadith: “Ya Alla, peliharalah aku dengan Islam sama ada dalam keadaan berdiri, duduk atau ketika tidur. Dan janganlah Engkau tundukkan musuh atau orang yang dengki kepadaku.” [Riwayat Ibnu Hibban di dalam Sahihnya]
21.       Nabi s.a.w mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang ingin bermusafir dengan berdoa: “Aku berdoa semoga Allah menjaga agamamu, amanahmu dan kesudahan amalanmu.” [Riwayat al-Nasa’ie]
22.       Secara kesuluruhannya, Allah akan menjaga orang mu’min yang menjaga segala batas-batas agama yang telah ditentukan oleh-Nya, dan menghalang dirinya daripada tertipu dengan segala perkara yang boleh merosakkan agamanya, sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf ‘alayhissalam:
Demikianlah Kami menjauhkan dirinya daripada kejahatan dan perkara yang keji. Sesungguhnya dia termasuk daripada hamba-hamba Kami yang ikhlas.” [Yusuf: 24]
23.       Kata Ibnu Abbas ketika mentafsirkan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah menghalang di antara seseorang itu dan hatinya…” [Al-Anfal: 24], iaitu: Allah menghalang antara orang mu’min dengan perkara maksiat yang boleh mengheretnya ke Neraka.
24.       Maksud “Jagalah Allah nescaya kamu akan mendapati-Nya di hadapan Engkau.” ialah: Sesungguhnya siapa yang menjaga batas-batas Allah, dan menjaga hak-hak-Nya, nescaya dia akan mendapati Allah bersamanya dalam setiap keadaan. Dia akan meliputinya (dengan rahmat), menolongnya, menjaganya dan meringankan (beban-bebannya), firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang bertaqwa dan orang yang selalu membuat kebaikan.” [Al-Nahl: 128]
Qatadah berkata: Siapa yang bertaqwa pada Allah, Dia akan ada bersamanya. Dan siapa yang Allah ada bersamanya, maka dia akan bersama dengan kumpulan tentera yang tidak akan kalah, pengawal yang tidak akan tidur, dan pemberi hidayah yang tidak akan menyesatkan.
25.       Kebersamaan yang khusus ini juga membawa kepada bantuan, pertolongan dan jagaan daripada Allah. Maka barangsiapa yang menjaga Allah, menjaga hak-hak-Nya, dia akan mendapati-Nya di hadapannya dalam setiap keadaan, sebagaimana di dalam hadith: “Sebaik-baik iman ialah seseorang hamba itu dia mengetahui bahawa Allah sentiasa bersamanya (melihatnya) di mana sahaja ia berada.”
26.       Ini bermakna kenalnya seseorang hamba itu kepada Tuhannya terbahagi kepada dua:
·        Kenal Tuhannya secara umum, iaitu kenal dengan membenarkan Allah dan beriman dengan-Nya.
·        Kenal dengan khusus: Iaitu cinta kepada Allah secara keseluruhannya, hidup semata-mata kerana-Nya, sentiasa merasai di temani-Nya, tenang apabila berzikir kepada-Nya, malu kepada-Nya, merasai kehebatan-Nya. Kata sebahagian ulama: Orang-orang yang miskin di dunia ialah mereka yang keluar daripada dunia tanpa merasai kemanisan yang terbaik di dunia,lalu di tanya: Apakah kemanisan itu? Jawabnya: Iaitu ma’rifatulLah Azza wa Jalla.

Minggu, 24 Juni 2012

AKHIRNYA BERHASIL MEMATIKAN ROKOK


Oleh: Ahmad Salim Ba Dulan *)

Saudaraku yang sedang teruji dengan rokok;
Saya tahu betul bahwa anda akan mengatakan bahwa anda telah berupaya berkali-kali untuk meninggalkannya namun tak berhasil jua… Dan saya katakan kepada anda:

Sesungguhnya hal itu pernah terjadi pada diri saya dan akan saya ceritakan secara rinci. Allah-lah yang menyaksikan bahwa saya menceritakan ini, bukan karena membanggakan kemaksiatan. Akan tetapi saya menyebutkannya sebagai pujian dan sanjungan kepada Allah atas karunia besar yang telah Dia limpahkan kepada saya dalam melepaskan diri dari rokok. Semoga bisa diambil faidah oleh siapa saja yang diuji dengan rokok sehingga ditetapkan baginya hidayah lalu mematikan rokok terakhir dalam hidupnya bersamaan dengan lembaran akhir dari risalah ini.

• Waspadalah membiarkan anak anda jalan-jalan bersama kawan-kawan dan teman sekolahnya tanpa pengawasan anda.

• Upayakan anak anda cukup dengan satu teman untuk belajar dan mengulang
pelajaran. Hendaknya teman ini dari yang dikenal istiqomah diantara yang anda
kenal dan percayai dari mereka.

• Jangan biarkan anak anda mengulang pelajaran atau belajar jauh dari penglihatan anda atau penglihatan ibunya.

• Jangan biarkan banyak uang berada di tangan anak anda. Uang lebih terkadang bisa mendorong untuk membeli rokok. Sebagai ganti uang cukupilah apa yang dibutuhkannya berupa makanan, minuman, kue dan lainnya.

• Jika anda punya kawan perokok maka jangan bolehkan dia merokok di rumah
anda. Dan jika memang anda tidak mampu, maka laranglah anak anda masuk
kepada anda berdua.

• Waspadailah anak anda keluar ke tempat-tempat yang jauh dari rumah dengan ditemani kawan-kawannya sekalipun anda percaya kepada mereka.

• Hati-hatilah wahai para orang tua sesungguhnya merokok pada usia kecil akan
susah meninggalkannya. Kebiasaan buruk ini terkadang bisa terus melekat pada
orangnya sepanjang hidupnya jika Allah tidak mengasihi dan menunjukinya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar:53).

Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (Al Kahfi:17)

Pada suatu malam penuh berkah di sepuluh akhir bulan Romadhon tahun 1412 H saya beserta saudara saya -yang juga merokok seperti saya- ikut sholat malam di salah satu masjid wilayah Nashiriyah Riyadh. Usai salam kedua biasanya orang-orang beristirahat sejenak untuk minum air putih, kopi atau teh sebelum melanjutkan sholatnya.

Nafsuku menggoda saya untuk keluar masjid untuk merokok kemudian kembali untuk melanjutkan sholat. Saya beritahukan kepada saudaraku tentang godaan nafsu jahatku. Tidak ada jawaban darinya kecuali hanya dia katakan kepadaku:

“Apa pendapatmu sebagai ganti pergi sekedar untuk merokok, kita berdoa kepada Allah kiranya menolong kita dalam meninggalkan rokok. Supaya kita meninggalkannya karena Allah semata, takut akan azab-Nya sekaligus berharap rahmat-Nya. Dan supaya kita bersungguh-sungguh dalam berdoa hingga usai sholat dengan memohon kepada Allah agar tidak menolak (doa) kita pada malam ini dan kiranya Dia memuliakan kita dengan hidayah”.

Kata-kata saudaraku tersebut mengena dalam diriku pada tempat baik dan
mendapatkan telinga yang mau mendengar. Kamipun lantas kembali melanjutkan sholat. Setelah usai sholat saya dan saudara saya mengeluarkan sisa rokok yang masih ada di saku kami dan kami hancurkan di depan masjid. Kemudian kami berjanji pada malam penuh berkah itu untuk tidak lagi menghisap rokok dan setiap kami untuk saling menolong yang lain dalam meninggalkan rokok setiap kali melemah dan nafsunya menggodanya untuk kembali lagi.

Segala puji bagi Allah saat-saat menghangatkan dalam kehidupan kami setelahnya kami tidak akan kembali lagi merokok berkat pujian dan taufiq Allah. Sekarang saya dan saudara saya telah dua tahun tidak pernah menyalakan satu batang rokokpun.

Kecerahan kembali pada rona wajah kami. Keluarga dan kawan karib bergembira dengan apa yang kami perbuat. Segala puji bagi Allah yang dengan karunia-Nya sempurnalah semua kebaikan.

Hukum Menghisap Rokok

Sunnah yang disucikan melarang kita dari segala hal yang membuat mabuk
sebagaimana melarang kita dari menyia-nyiakan harta pada tempat yang tidak ada manfaatnya sebagai kasih sayang dan kebaikan kepada kita.

Para ulama’ telah mengeluarkan fatwa akan haramnya menghisap rokok. Hal itu
karena melihat di dalamnya terdapat bahaya terhadap agama, dunia, masyarakat, dan kesehatan. Berdasarkan hal ini rokok digolongkan termasuk ‘barang buruk’ (khabaits) yang diharamkan Al Qur’an. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman (yang artinya):

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (Al A’raf:157)

Merokok tidak hanya menyakiti orang-orang yang merokok. Namun menyakiti orangorang yang ada di sekitarnya juga. Allah telah melarang kita dari menyakiti saudara kaum muslimin kita. Dia berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (Al Ahzab:58).

Merokok –pada dasarnya- merupakan penghamburan harta, pemborosan, tabdzir sedang Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Penyia-nyiaan dan penghamburan mana yang lebih besar daripada orang yang melenyapkan hartanya dan membakarnya dengan api yang disertai bencana badan dan kesehatan sekaligus?! Allah telah mengkaruniakan kepada manusia ilmu, akal dan kekuatan kemauan maka jika telah mengetahui bahaya merokok dan keharamannya maka tidak lain kecuali dia harus bertekad untuk meninggalkannya. Dan barangsiapa meninggalkan sesuatu
semata karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Penutup

Adapun setelah itu:
Saudaraku yang sedang teruji dengan rokok;
Sesungguhnya ini merupakan ajakan yang jujur dari hati ke hati supaya anda
meninggalkan rokok….
Anda akan mengatakan bahwa anda telah berkali-kali melakukan upaya akan tetapi pada kali ini:

Janganlah anda meninggalkan rokok demi kesehatan
Janganlah anda meninggalkan rokok demi masyarakat dan manusia
Janganlah anda meninggalkan rokok demi menjaga harta anda
Tapi tinggalkanlah rokok semata karena Allah, niscaya Allah akan membantu anda untuk meninggalkannya.

Kami doakan anda secara tulus semoga Allah melimpahkan taufiq kepada anda dalam meninggalkannya. Sesungguhnya Dia Maha Menunjukkan kepada jalan yang lurus.

Semoga Allah menjaga anda dari segala keburukan.

*) Penerjemah: Muh Saefuddin M. Basri; Editor: Muh. Mu’inuddin M. Basri

KEMANA CINTA HARUS KU LABUHKAN ?


Cinta adalah topik pembicaraan yang tidak akan pernah usang untuk dibahas. Berbagai kalangan, baik tua maupun muda turut membicarakannya, tidak ketinggalan kalangan yang fujjar (hobi maksiat) maupun kalangan alim ulama pun turut memperbicangkannya.

Perbincangan Manusia Mengenai Cinta

Banyak perbincangan orang mengenai cinta ini, al Imam Ibnu al Qayyim rahimahullah menyampaikan beberapa perkataan mengenai cinta,

Al ‘Abbas bin Al Ahnaf mengatakan,

وما الناس إلا العاشقون ذوو الهوى … ولا خير فيمن لا يحب ويعشق

Setiap manusia mesti memiliki cinta…tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak memiliki cinta[1]

Abu Naufal pernah ditanya,

هل يسلم أحد من العشق فقال نعم الجلف الجافي الذي ليس له فضل ولا عنده فهم فأما من في طبعه أدنى ظرف أو معه دمائة أهل الحجاز وظرف أهل العراق فهيهات

“Apakah seorang bisa menghindar dari cinta?” Dia menjawab, “Bisa, (asalkan dia adalah seorang yang) berhati keras dan kurang ajar, yang tidak memiliki keutamaan dan kepintaran. Walaupun seorang hanya memiliki perangai dan akhlak penduduk Hijaz dan Irak yang paling rendah sekalipun, maka tentu dia tidak akan bisa menghindar dari yang namanya cinta.”[2]

‘Ali bin ‘Abdah berkata,

لا يخلو أحد من صبوة إلا أن يكون جافي الخلقة ناقصا أو منقوص الهمة أو على خلاف تركيب الاعتدال

“Tidak mungkin seorang bisa terlepas dari cinta, kecuali dia adalah seorang yang buruk perangai, loyo (tidak bergairah) atau kurang waras.”[3]

Demikianlah, diri kita tidak mungkin terlepas dari sesuatu yang namanya cinta.

Jenis-jenis Cinta

Cinta ternyata dapat membawa seorang kepada kebahagiaan dan tidak sedikit orang yang hanyut oleh arus cinta sehingga terjerumus ke dalam kesengsaraan. Pertanyaannya, cinta manakah yang bisa membawa kepada kebahagiaan dan cinta manakah yang bisa membawa kepada kesengsaraan?

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa terdapat empat jenis cinta yang harus dibedakan sehingga tidak timbul persepsi yang salah sehingga menyebabkan seorang tersesat. Berikut penjelasannya,

• Mahabbatullah (cinta kepada Allah). Cinta kepada Allah saja tidak cukup untuk menyelamatkan seorang dari siksa Allah dan mendapatkan pahala dari-Nya karena orang-orang musyrik, penyembah salib, Yahudi, dan yang lainnya juga mencintai Allah.
Allah ta’ala berfirman, (yat),

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Al Maa-idah: 18).

• Mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai apa yang dicintai Allah). Jenis cinta inilah yang memasukkan seorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Kecintaan Allah terhadap seorang berbanding lurus dengan kadar kecintaan jenis ini. Contoh kecintaan ini adalah cinta kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, cinta seorang terhadap berbagai peribadatan kepada Allah.

• Al Hubbu fillah wa lillah (kecintaan karena Allah dan di jalan Allah). Kecintaan ini merupakan syarat dari kecintaan kepada apa yang dicintai oleh Allah (mahabbatu ma yuhibbullah). Mencintai apa yang dicintai Allah tidak akan lurus kecuali jika ia mencintai karena Allah dan di jalan Allah.

Ilustrasi akan hal ini adalah sebagai berikut, seorang muslim tentu mencintai rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ketika cinta ini tidak dilakukan di jalan Allah, tidak sesuai dengan tuntunan syari’at, maka cinta ini terkadang menjadi sebuah kemaksiatan atau kesyirikan. Diantara contohnya adalah kecintaan seorang yang berkata dalam sya’irnya,

يا رسول الإله إني ضعيف فاشفعني أنت مقصد للشفاء
يا رسوا لإله إن لم تغثني فإلى من ترى يكون التجائي
Wahai rasulullah, sesungguhnya aku tidak berdaya
Maka berilah syafaat untuk diriku, dirimulah harapanku untuk sembuh
Wahai rasululah, jika engkau tidak menolongku
Kepada siapa lagi aku berlindung[4]

Sya’ir di atas merupakan bentuk kecintaan orang tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun demikian, kecintaan tersebut tidaklah bermanfaat bagi orang itu, karena tidak dilakukan di atas tuntunan Allah ta’ala, karena Allah ta’ala memerintahkan nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan,

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (١٨٨)

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raaf: 188).

Contoh lain cinta jenis ketiga ini adalah kecintaan seorang muslim kepada saudaranya yang dilandasi atas dasar keimanan,

عن أبي هريرة : عن النبي صلى الله عليه وسلم أن رجلا زار أخا له في قرية أخرى فأرصد الله له على مدرجته ملكا فلما أتى عليه قال أين تريد ؟ قال أريد أخا لي في هذه القرية قال هل لك عليه من نعمة تربها ؟ قال لا غير أني أحببته في الله عز وجل قال فإني رسول الله إليك بأن الله قد أحبك كما أحببته فيه

“Ada seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di suatu daerah lain. Maka Allah mengirim malaikat untuk mengintai perjalanannya. Ketika lelaki itu bertemu dengan sosok penjelmaan malaikat tersebut, malaikat itu bertanya kepadanya, “Anda hendak kemana?”. Lelaki itu menjawab, “Saya ingin menemui seorang saudara –seagama- saya yang ada di daerah ini.” Malaikat itu bertanya, “Apakah anda mengharapkan tambahan nikmat (dunia) dengan menemuinya?”.

Dia menjawab, “Tidak. Hanya saja saya ingin mengunjunginya karena saya mencintainya karena Allah ‘azza wa jalla.” Malikat itu pun berkata, “Sesungguhnya aku dikirim oleh Allah untuk menemuimu dan memberitakan kepadamu bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu telah mencintainya karena diri-Nya.”[5]

Kecintaan pria di atas adalah kecintaan karena Allah dan di jalan Allah, dia mencintai saudaranya bukan dikarenakan tendensi-tendensi yang bersifat duniawi, namun kecintaannya tersebut dilandasi keimanan terhadap Allah ta’ala.

• Al Mahabbah ma’allah (cinta mendua kepada Allah). Artinya dia mencintai selain Allah dan juga mencintai Allah dengan kadar yang sama. Ini merupakan cinta syirik. Setiap orang yang mencintai sesuatu dengan kecintaan yang sama kepada Allah, bukan dilakukan karena Allah atau di jalan-Nya, maka ia telah menjadikan objek yang dicintainya sebagai tandingan selain Allah. Inilah jenis kecintaan orang-orang musyrik.

Allah ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ (١٦٥)

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al Baqarah: 165)
.
• Al Mahabbah ath thabi’iyyah (kecintaan manusiawi). Kita diperbolehkan melakukannya, yaitu kecenderungan seorang kepada apa yang disenangi dan yang sesuai dengan watak dan nalurinya. Seperti orang haus, tentu dia akan mencintai air, beitupula ketika lapar, dia akan mencintai makanan, dia senang tidur, mencintai istri dan anak.

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (Al Munafiqun: 9).

Ini bukan cinta yang dicela kecuali jika hal itu telah melalaikan dari mengingat Allah dan menyibukkan diri dari cinta kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman, (yat),

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan shallallahu ‘alaihi wa sallamah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran:14).

Allah ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (٢٤)

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan rasul-Nya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At Taubah: 24).

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (٩)

Demikianlah pembagian cinta menurut imam Ibnul Qayyim yang beliau sampaikan dalam kitab Al Jawaabul Kaafi.
Di tempat yang lain, imam Ibnul Qayyim juga menyimpulkan pembagian cinta. Tidak mengapa kita cantumkan perkataan beliau disini untuk menambah faedah. Kata beliau,

فالمحبة النافعة ثلاثة أنواع : محبة الله ومحبة في الله ومحبة ما يعين على طاعة الله تعالى واجتناب معصيته
والمحبة الضارة ثلاثة أنواع : المحبة مع الله ومحبة ما يبغضه الله تعالى ومحبة ما تقطع محبته عن محبة الله تعالى أو تنقصها فهذه ستة أنواع عليها مدار محاب الخلق فمحبة الله عز وجل أصل المحاب المحمودة وأصل الإيمان والتوحيد والنوعان الآخران تبع لها والمحبة مع الله أصل الشرك والمحاب المذمومة والنوعان الآخران تبع لها

“Cinta yang bermanfaat itu terbagi menjadi tiga, yaitu mahabbatullah (cinta kepada Allah), mahabbah fillah (cinta di jalan Allah) dan mahabbah (cinta) kepada segala sesuatu yang dapat membantu seorang semakin ta’at kepada Allah ta’ala dan menjauhi segala larangannya. Sedangkan cinta yang membahayakan terbagi menjadi tiga pula, mahabbah ma’allah (mencintai sesuatu di samping mencintai Allah), cinta terhadap perkara yang dibenci oeh Allah dan cinta terhadap sesuatu yang dapat memangkas cinta seorang kepada Allah atau menguranginya.

Cinta yang dimiliki oleh manusia tidak terlepas dari keenam perkara tersebut. Mahabbatullah merupakan sumber segala cinta yang terpuji, merupakan dasar iman dan tauhid. Sementara dua cinta terpuji yang lain merupakan penyerta cinta jenis ini.
Demikian pula, mahabbah ma’allah (mencintai sesuatu di samping mencintai Allah) merupakan sumber kemusyrikan dan merupakan cinta yang tercla. Sementara dua cinta tercela lainnya merupakan penyerta cinta jenis ini.”[6]

Kemana Cinta Harus Dilabuhkan?

Cinta diungkapkan dalam bahasa Arab dengan kata ‘al hubb’ yang berarti sesuatu yang terdalam. Jika kita memberikan sesuatu yang terdalam dan berharga kepada orang yang tepat dan patut mendapatkannya, maka kita akan berbahagia tentunya.

Sebaliknya, jika kita memberikannya kepada seorang yang tidak layak, maka hal itu akan menyebabkan kesengsaraan hidup.
Oleh karenanya, selayaknya seorang menyerahkan dan melabuhkan cintanya kepada Allah, Zat yang maha sempurna, terbebas dari segala cela, dan Dia-lah yang paling banyak memberikan kebaikan kepada dirinya. Dengan demikian, kecintaan terbesar seorang mukmin adalah ditujukan kepada Allah ta’ala, Zat yang paling pantas untuk dicintai, Zat yang menjadi curahan cinta setiap hamba.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengemukakan beberapa alasan untuk mencintai Allah dalam kitabnya Al Jawaab Al Kaafi[7], diantaranya adalah sebagai berikut:

• Secara fitrah, hati cenderung mencintai zat yang memberi nikmat dan mencintai zat yang berjasa kepadanya. Oleh karenanya, manusia wajib mendahulukan cinta kepada Allah, karena semua kebaikan dan kenikmatan yang dirasakan hanya berasal dari Allah semata. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ (٥٣)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (An Nahl: 53).

• Cinta akan timbul jika ada dua motivasi, yaitu kemuliaan dan keindahan pada objek yang dicintainya. Allah itu lebih layak dicintai lebih dari segalanya karena Allah memiliki nama dan sifat yang baik dan mulia, dan hati cenderung mencintai dan senang kepada yang baik-baik.

• Setiap orang yang berinteraksi dengan anda, maka ia menginginkan imbalan keuntungan. Sementara Allah berinteraksi dengan kita karena Allah menginginkan agar kita beruntung dengan keuntungan yang paling besar dan bukan Allah yang memperoleh keuntungan. Karena itulah, Allah membalas satu dirham yang diinfakkan dengan sepuluh dirham, kemudian dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.

• Semua kebutuhan dan kepentingan anda, bahkan semua kebutuhan makhluk ditanggung oleh Allah, karena Dia-lah yang maha mulia dan dermawan. Dia memberi sebelum diminta dengan pemberian yang tidak pernah dibayangkan oleh yang meminta. Allah berterima kasih untuk setiap perbuatan kita meskipun amalan kita sedikit, bahkan Allah melipatgandakan amalan tersebut. Dia mengampuni dosa yang banyak dan menghapusnya, semua yang ada di langit memintanya setiap hari dan setiap saat.

Oleh karenanya, sungguh merugi, orang yang berpaling dari cinta Allah dan malah sibuk mencintai selain-Nya, padahal Allah tidak memiliki tendensi (kepentingan) terhadap dirinya. Betapa indah apa yang dikatakan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullah, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ucapan beliau.

فيا حسرة المحب الذي باع نفسه لغير الحبيب الأول بثمن بخس وشهوة عاجلة ذهبت لذتها وبقيت تبعتها وانقضت منفعتها وبقيت مضرتها فذهبت الشهوة وبقيت الشقوة وزالت النشوة وبقيت الحسرة فوارحمتاه لِصْبٌ جمع له بين الحسرتين حسرة فوت المحبوب الأعلى والنعيم المقيم وحسرة ما يقاسيه من النصب في العذاب الأليم

“Alangkah meruginya seorang yang menjual dirinya dengan harga yang murah kepada selain kekasih yang pertama (yakni Allah-pen), hanya karena ingin memenuhi nafsu syahwat sementara yang akan berakhir kenikmatannya dan akan terus membawa malapetaka. Alangkah kasihan hati yang di dalamnya terkumpul dua penyesalan, penyesalan karena tidak berjumpa dengan kekasih tertinggi (Allah) dan surga yang dipenuhi kenikmatan, serta penyesalan disebabkan siksaan adzab yang berkepanjangan.”[8]
Gedong Kuning, Yogyakarta, 10 Rabiuts Tsani 1430.
________________________________________
[1] Raudlah al Muhibbin 1/175

[2] Raudlah al Muhibbin 1/177
[3] Raudlah al Muhibbin 1/177
[4] Syawahidul Haqq karya An Nabhani hal 352
[5] HR. Muslim no. 2567 dalam Kitab Al-Birr wa Shilah wal Adab
[6] Ighatsaatul Lahfaan 2/140.
[7] Al Jawaab Al Kaafi hal. 256-259
[8] Ighatsatul Lahfaan 2/121
 sumber ; 
http://aini79.blogspot.com/2011/12/kemana-cinta-harus-ku-labuhkan.html

Kamis, 21 Juni 2012

Menuju Petunjuk Islam

Saudaraku yg seiman & seakidah : janganlah kita ikut2an latah mengikuti kaum sekuler dgn mengatakan,"jangan bawa2 agama atau jangan fanatik deh....,!" kalau kita tdk bawa agama dlm kehidupan kita lalu kpn kita akan membawa agama kita, apa saat sakaratul maut ? kalau kita tdk faanatik dgn agama kita, gimana mau menjalankan syariatnya dgn sungguh2 ?
semoga Allah menunjukkan kita semua pada jln yg lurus ....!
fanatik bukan berarti tdk toleran lho ya , Nabi kita kan fanatik jg sm agama kita . Tp beliau jg bs toleran kan dgn non muslim . Dan kita jg hrs tau mana wilayah toleran dan mana wilayah fanatik . Ada ungkapan ; " fanatik yg gak toleran =  fanatik buta dan toleran yg gak fanatik = gak punya prinsip, plin-plan alias gak punya pedoman ".

Senin, 18 Juni 2012

10. Larangan Mengambil 'Ilmu Dari Ahlul Bid'ah



Sumber: www.abuzuhriy.com

Diriwayatkan dari Abu Umayyah al-Jumahi radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya salah satu tanda dekatnya hari Kiamat adalah ilmu diambil dari kaum ashaaghir (ahli bid’ah).”

Ibnul Mubarak berkata dalam kitab az-Zuhd (hal. 21 dan 281): “Yang dimakud kaum ashaaghir adalah ahli bid’ah.”

[Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd (61), dari jalur tersebut al-Lalika-i meriwayatkannya dalam kitab Syarah Usbuul I'tiqaad Ahlis Sunnah (102), ath-Thabrani dalam al-Kabiir (XXII/908 dan 299), al-Harawi dalam kitab Dzammul Kalaam (11/137), al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqiih wal Mutafaqqih (11/79), Ibnu 'Abdil Barr dalam kitab Jaami’ Bayaanil 'llm (1052) dan lainnya dari jalur Ibnu Luhai'ah, dari Bakr bin Sawadah, dari Abu Umayyah. Saya (Syaikh Salim) katakan: "Sanadnya shahih shahih, karena riwayat al-'Abadillah dari Ibnu Luhai'ah adalah riwayat shahih. Adapun perkataan al-Haitsami dalam Majma'uz Zawaa-id (I/1365) yang mendha'ifkan Ibnu Luhai'ah tidaklah tepat."

Ditambah lagi Ibnu Luhai'ah tidak tersendiri dalam meriwayatkan hadits ini, ia telah diikuti oleh Sa'id bin Abi Ayyub yang dikeluarkan oleh al-Khathib al-Bagdadi dalam al-Jaami' li Akhlaaqir Raawi wa Adaabis Saami' (I/137). Sa'id adalah perawi tsiqah.

Ada dua penyerta lain lain bagi hadits ini:

Pertama:

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata:

"Manusia senantiasa shalih dan berpegang kepada yang baik selama ilmu datang kepada mereka dari Sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan dari orang-orang yang berilmu dari mereka. Jika ilmu datang kepada mereka dari kaum ashaaghir maka mereka akan binasa."

[Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak (815), 'Abdurrazaq (XI/246), Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (VIII/49) dan al-Lalikai dalam Syarh Ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah (101)].

Saya (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullah) katakan: “Sanad hadits tersebut shahih.”

Kedua:

Diriwayatkan dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Manusia senantiasa beraa dalam kebaikan selama generasi pertama masih tersisa dan generasi berikut menimba ilmu dari mereka. Jika generasi pertama telah berlalu sebelum generasi berikut menimba ilmu dari mereka, maka manusia akan binasa.”

[Diriwayatkan oleh ad-Darimi (I/78-79) dan Ahmad dalam kitab az-Zuhd (hal. 189) melalui dua jalur dari Salman.

Kedua haits ini memiliki hukum marfu', sebab perkara di atas termasuk salah satu tanda hari Kiamat yang tidak dapat dikatakan atas dasar logika dan ijtihad. Wallahu a'lam.

KANDUNGAN BAB:

1. Kaum ashaaghir adalah ahli bid'ah dan pengikut hawa nafsu yang berani mengeluarkan fatwa meski mereka tidak memiliki ilmu.

Hal ini telah diisyaratkan dalam hadits yang berbicara tentang terangkatnya ilmu.

2. Ulama adalah kaum Akaabir meskipun usia mereka muda usia.

Ibnu 'Abdil Barr berkata dalam kitab Jaami'Bayaanil’llm,

"Orang jahil itu kecil, meskipun usianya tua. Orang alim itu besar meskipun usianya muda."

Lalu ia membawakan sebuah sya'ir,

"Tuntutlah ilmu, karena tidak ada seorangpun yang lahir langsung jadi ulama Sesungguhnya orang alim tidaklah sama dengan orang jahil, Sesepuh satu kaum yang tidak punya ilmu Akan menjadi kecil bila orang-orang melihat kepadanya."

3. Ilmu adalah yang bersumber dari Sahabat radhiyallahu 'anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Itulah ilmu yang berguna. Jika tidak demikian, maka pemiliknya akan binasa karenanya. Dan pemiliknya tidak akan menjadi imam, tidak menjadi orang dipercaya dan diridhai.

4. Para penuntut ilmu harus mengambil ilmu dari orang-orang yang bertakwa, shalih dan mengikuti Salafush Shalih.

Sebab, keberkatan selalu bersama mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Keberkahan selalu bersama kaum akaabir (ahli ilmu) kalian."

[HR Ibnu Hibban (955), al-Qadha’i dalam Musnad asy-Syihab (36-37), al-Hakim (I/62), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (VIII/171-172), al-Khathib al-Baghdadi dalam Taarikh Baghdaad (XI/165), al-Bazzar dalam Musnadnya (1957) dan lainnya melalui beberapa jalur dari 'Abdullah bin al-Mubarak, dari Khalid al-Hadzdza', dari 'Ikrimah, dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhu. Saya katakan: "Sanadnya shahih].

5. Ulama Salaf terdahulu telah mengisyaratkan keterangan ini yang dapat menyelamatkan kita dari kejahilan dan menjaga kita dari kesesatan.

Seorang tabi’in yang mulia, Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu!”

[HR Muslim dalam Muqaddimah Shahiihnya (1/14) dengan sanad shahih].

Sebab, ilmu ini hanya dibawa oleh orang-orang yang terpercaya, maka selayaknya diambil dari mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Musa ‘lsa bin Shabih, Telah diriwayatkan sebuah hadits shahih dari RasuluUah shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan kaum yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil dan pemalsuan ahli bathil. Ilmu ini hanya layak disandang oleh orang-orang yang memiliki karakter dan sifat seperti itu.”

(Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi wa Adaabis Saami’ [1/129]).

Oleh karena itu pula harus dibedakan antara ulama Ahlus Sunnah dengan ahli bid’ah, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Muhammad bin Siirin rahimahullah,

“Dahulu, orang-orang tidak bertanya tentang sanad. Namun setelah terjadi fitnah (munculnya bid’ah), mereka berkata,

‘Sebutkanlah perawi-perawi kalian!’

Jika perawi tersebut Ahlus Sunnah, maka mereka ambil haditsnya. Dan jika ahli bid’ah, maka tidak akan mereka ambil haditsnya.”

[HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahiihnya (1/15) dengan sanad shahih]

Demikian pula harus dilihat spesialisasi tiap-tiap orang dan mengambil pendapatnya dalam bidang yang sudah menjadi spesialisasinya. Sebab setiap ilmu memiliki tokoh-tokoh tersendiri, mereka dikenal dengan ilmu tersebut dan ilmu tersebut dapat diketahui melalui mereka.

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya, ilmu ini adalah agama, maka periksalah dari siapa engkau mengambil ajaran agamamu. Aku sudah bertemu tujuh puluh orang yang mengatakan, fulan berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda di tiang masjid ini -beliau menunjuk Masjid Nabawi namun aku tidak mengambil satu pun hadits dari mereka.- Sesungguhnya, ada beberapa orang dari mereka yang apabila diberi amanat harta, maka ia akan memelihara amanat tersebut. Akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang ahli dalam bidang ini. Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin Syihab pernah datang ke sini, lalu mereka berkerumun di depan pintunya.”

[Lihat kitab al-Faqiih wal Mutafaqqih (11/98)].

Para ahli ilmu telah mengingatkan hal ini dalam tulisan-tulisan mereka. Tujuannya untuk melindungi generasi mendatang agar tidak terpengaruh oleh klaim-klaim dari orang-orang yang bertambah subur tanaman mereka di tanah yang tandus. Yakni orang-orang yang ingin mencuat sebelum matang, ingin muncul sebelum tiba waktunya!

Mereka berkoar-koar di majelis-majelis ilmu, sibuk mengeluarkan fatwa dan sibuk mengarang buku. Mereka mendesak naik ke puncak yang telah ditempati oleh para ulama terlebih dulu. Mereka menempatinya untuk merubuhkan batas-batas pemisahnya dan mengurai jalinannya.

Aksi mereka bertambah gila lagi dengan berdatangannya orang-orang awam dan orang-orang yang setipe dengannya ke majelis-majelis mereka dengan perasaan takjub, amat girang menyimak cerita-cerita kosong mereka.

Al-Khathib al-Baghdaadi berkata dalam kitab al-Faqiih wal Mutafaqqih (11/960,

“Seorang penuntut ilmu seharusnya menimba ilmu dari ahli fiqih yang terkenal kuat memegang agama, dikenal shalih dan menjaga kesucian diri.”

Kemudian ia mengatakan:

“Dan hendaknya ia juga harus menghiasi diri dengan etika-etika ilmu, seperti sabar, santun, tawadhu’ terhadap sesama penuntut ilmu, bersikap lembut kepada sesama, rendah hati, penuh toleransi kepada teman, mengatakan yang benar, memberi nasihat kepada orang lain dan sifat-sifat terpuji lainnya.”

Dalam kitabnya yang langka, yakni al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi wa Aadaabis Saami’ (1/126-127), beliau telah menulis beberapa pasal. Kami akan menyebutkan inti dari pasal-pasal tersebut:

1. Tingkatan keilmuan para perawi tidaklah sama, harus didahulukan mendengar riwayat dari perawi yang memiliki sanad ‘Ali (lebih dekat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Jika sanad para perawi tersebut sama dalam hal ini, sedang ia ingin mengambil sebagian saja dari sanad-sanad tersebut, maka hendaklah ia memilih perawi yang lebih populer dalam bidang hadits, yang dikenal ahli dan menguasai ilmu ini.

2. Jika para perawi tersebut juga sama dalam kedua hal tersebut, maka hendaklah memilih perawi yang memiliki nasab dan silsilah yang lebih mulia. Riwayatnyalah yang lebih layak disimak.

3. Hal itu semua berlaku bila para perawi itu telah memenuhi kriteria lain, seperti istiqamah di atas manhaj Salafush Shalih, terpercaya dan terhindar dari bid’ah. Adapun perawi yang tidak memenuhi kriteria di atas, maka harus dijauhi dan jangan menyimak riwayat darinya.

4. Para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh mendengar riwayat dari perawi yang telah terbukti kefasikannya. Seorang perawi dapat disebut fasik karena banyak perkara, tidak hanya karena perkara yang berkaitan dengan hadits. Adapun yang berkaitan dengan hadits misalnya memalsukan matan hadits atas nama Rasulullah saw. atau membuat-buat sanad-sanad atau matan-matan palsu. Bahkan katanya, alasan diadakannya pemeriksaan terhadap para perawi awalnya adalah disebabkan perkara di atas.

5. Di antara para perawi itu ada yang mengaku telah mendengar dari syaikh yang belum pernah ditemuinya. Karena itulah para ulama mencatat tarikh kelahiran dan kematian para perawi. Ditemukanlah riwayat-riwayat sejumlah perawi dari syaikh-syaikh yang tidak mungkin bertemu dengan mereka karena keterpautan usia yang sangat jauh.

6. Ulama ahli hadits juga menyebutkan sifat-sifat ulama dan kriteria mereka. Dengan demikian banyak sekali terbongkar kedok sejumlah perawi.

7. Jika perawi tersebut terlepas dari tuduhan memalsukan hadits, terlepas dari tuduhan meriwayatkan hadits dari syaikh yang belum pernah ditemuinya dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menjatuhkan kehormatannya, hanya saja ia tidak memiliki kitab riwayat yang didengarnya itu dan hanya beipatokan kepada hafalannya dalam menyampaikan hadits, maka tidak boleh mengambil haditsnya hingga para ulama ahli hadits merekomendasikannya dan menyatakan ia termasuk dalam deretan penuntut ilmu yang memiliki perhatian kepada ilmu, memelihara dan menghafalnya dan telah diuji kualitas hafalannya dengan mengajukan hadits-hadits yang terbolak-balik kepadanya.

Jika perawi itu termasuk pengikut hawa nafsu dan pengikut madzhab yang menyelisihi kebenaran, maka tidak boleh mendengar riwayatnya, meskipun ia dikenal memiliki banyak ilmu dan kuat hafalannya.

Seorang penuntut ilmu syar’i harus mengetahui hakikat sebenarnya. la harus tahu dari siapa ia mengambil ajaran agamanya. Janganlah ia mengambil ilmu dari ahli bid’ah, karena mereka akan membuatnya sesat sedang ia tidak menyadarinya.

(Disalin dari kitab Ensiklopedi Larangan Jilid I, cet.Kedua, Muharram 1426 H/Februari 2005 M, hal. 219-224, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullah)

9. Larangan Bermajelis Dengan Ahli Bid’ah A

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.”

[QS an-Nisa : 140]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”

[QS al-An'am : 68]

Al-Baghowi dalam Ma’alimut Tanzil (2/301) dalam tafsir surat an-Nisa’ ayat 140 berkata :

Adh-Dhohhak *1* berkata : dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma :

“Termaasuk pada ayat ini semua orang yang mengada-adakan bid’ah dalam agama dan semua mubtadi’ sampai hari kiamat“.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya (5/418) berkata:

Juwaibir *2* meriwayatkan dari adh-Dhohhak, ia berkata :

“Masuk pada ayat ini semua orang yang mengada-adakan bid’ah dalam agama, mubtadi’ sampai hari kiamat“ 

Ibnu ‘Aun *3* berkata :

كان محمد يرى أن أهل الاهواء أسرع الناس ردة، وأن هذه نزلت فيهم: (وإذا رأيت الذين يخوضون في آياتنا فأعرض عنهم حتى يخوضوا في حديث غيره)

“Muhammad (bin Sirin)*4* berpendapat bahwa ahlul ahwa adalah orang yang paling cepat murtadnya, dan bahwa ayat ini (al-An’am : 68, pent) turun pada mereka : (Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain)”

[Siyar A'lamin Nubala' 4/610]

Dari ‘Aisyah, ia berkata :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

[QS. Ali Imron : 7, pent] 

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

“Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat; mereka itulah yang disebut Allah (dalam ayat tadi, pent), maka berhati-hatilah dari mereka!”

[HR. al-Bukhori no. 4273 dan Muslim no. 2665]

Dari Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

سيكون في آخر أمتي أناس يحدثونكم ما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم فإياكم وإياهم

“Akan ada pada akhir ummatku orang-orang yang mengabarkan kepada kalian apa-apa yang belum pernah kalian dengar dan tidak pula bapak-bapak kalian, maka berhati-hatilah kalian dari mereka!”

[HR. Muslim dalam muqoddimah Shohih-nya hadits no. 6]

Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafidzohulloh dalam syarah ushulus Sunnah (hal. 8, versi sahab.org) setelah membawakan 2 hadits di atas, beliau berkata :

“Ini juga termasuk diantara nash-nash yang melarang dari bermajelis dengan ahlul bida’. Di sana ada orang-orang ahlul jahl dan orang-orang yang tertipu, sedangkan engkau memiliki ilmu, hujjah dan burhan (penjelasan), engkau mendakwahkan mereka kepada kebenaran dan memberi penjelasan kepada mereka, (maka ini) tidak mengapa.

Adapun engkau bermajelis untuk bersahabat, berteman, mencintai, bergaul dan yang serupa dengan itu, maka ini merupakan kesalahan yang akan menghantarkan kepada kesesatan.

Dan wajib bagi orang yang berakal untuk menjauhinya, dan sebagian shahabat telah mentahdzir dari yang demikian seperti Ibnu Abbas dan sebagian imam tabi’in seperti Ayyub as-Sikhtiyani dan Ibnu Sirin rohimahumulloh.

Dulu salah seorang dari mereka tidak mau mendengar kepada ahli bid’ah, sampai-sampai jika ahli bid’ah itu menawarkan untuk membacakan padanya sebuah hadits atau ayat,

Maka ia (imam itu) berkata :

“Tidak!”

Lalu ditanyakan kepadanya :

“Mengapa?” 

Ia berkata :

“Sesungguhnya hatiku bukan di tanganku, aku khawatir ia akan melempar fitnah dalam hatiku, lalu aku tidak mampu untuk menolaknya.” 

Keselamatan janganlah diganti dengan sesuatu apapun, maka janganlah seseorang memperlihatkan dirinya kepada fitnah, khususnya jika ia mengetahui bahwa dirinya lemah.”

Dari Abu Musa al-Asy’ari, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman duduk yang sholeh dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa misk (sejenis minyak wangi, pent) dan peniup bara api. Orang yang membawa misk, mungkin ia akan memberimu (misk) atau engkau membeli darinya atau engkau akan mendapatkan darinya bau wangi. Adapun peniup bara api, mungkin ia akan membakar bajumu atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap.”

[HR. al-Bukhori no., Muslim no., dll. Dengan lafadz Muslim]

Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ

“Barangsiapa mendengar Dajjal, hendaklah ia mejauh darinya. Karena demi Allah, seseorang akan mendatanginya dengan mengira bahwa ia (Dajjal) itu seorang mu’min, lalu iapun mengikutinya dalam syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Dajjal atau karena syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Dajjal.”

[HR. Abu Dawud (4319), Ahmad (19982), al-Hakim (8616), ath-Thobroni dalam al-Mu'jam al-Kabir (550), dll. Dishohihkan al-Albani dalam Shohihul Jami' (6301)]

Ibnu Baththoh setelah membawakan hadits ini berkata :

هذا قول الرسول صلى الله عليه وسلم ، وهو الصادق المصدوق ، فالله الله معشر المسلمين ، لا يحملن أحدا منكم حسن ظنه بنفسه ، وما عهده من معرفته بصحة مذهبه على المخاطرة بدينه في مجالسة بعض أهل هذه الأهواء ، فيقول : أداخله لأناظره ، أو لأستخرج منه مذهبه ، فإنهم أشد فتنة من الدجال ، وكلامهم ألصق من الجرب ، وأحرق للقلوب من اللهب

“Inilah sabda Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam, dan dia adalah ash-shodiqul mashduq (yang benar dan dibenarkan).

Maka Alloh! Alloh wahai sekalian kaum muslimin!! Janganlah salah seorang dari kalian membawa baik sangkanya terhadap dirinya sendiri (percaya diri, pent) dan apa-apa yang telah ia ketahui dari kebenaran madzhabnya, kepada yang membahayakan agamanya dari bermajelis dengan sebagian ahlil ahwa ini, lalu ia mengatakan :

‘aku akan masuk kepadanya untuk kudebat dia, atau aku akan mengeluarkannya dari madzhabnya’, 

Sesungguhnya fitnah mereka (ahlul hawa/ahlul bid’ah) lebih parah dari Dajjal, dan perkataan mereka lebih melekat daripada kudis, dan lebih membakar hati daripada api yang menyala.”

[Lihat al-Ibanah al-Kubro 3/470, kemudian beliau membawakan riwayat contoh orang-orang yang termakan syubuhat ahlul ahwa' wal bida', wal 'iyadzu billah]

Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.”

[HR. al-Bukhori (3158), Muslim (2638), Abu Dawud (4834), Ahmad (7922), Ibnu Hibban (6168), al-Hakim (8296), dll]

Al-Fudhail bin Iyadh berkata :

إن لله ملائكة يطلبون حلق الذكر، فانظر مع من يكون مجلسك، لا يكون مع صاحب بدعة؛ فإن الله تعالى لا ينظر إليهم، وعلامة النفاق أن يقوم الرجل ويقعد مع صاحب بدعة، وأدركت خيار الناس كلهم أصحاب سنة وهم ينهون عن أصحاب البدعة

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang bertugas mencari majelis-majelis dzikir, maka lihatlah bersama siapakah majelismu itu, janganlah bersama ahli bid’ah; karena Allah ta’ala tidak melihat kepada mereka. Dan salah satu tanda nifaq adalah seseorang bangun dan duduk bersama ahli bid’ah. Aku mendapati sebaik-baik manusia (yakni tabi’in, pent), mereka semuanya adalah ahlus Sunnah dan mereka melarang (yakni memperingatkan) dari ahli bid’ah.”

[Hilyatul Aulia (8/104)]

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu anhuma, ia berkata :

لا تجالس أهل الأهواء ، فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

“Janganlah engkau duduk-duduk (bermajelis) dengan ahlul ahwa! karena duduk-duduk bersama mereka membuat hati(mu) menjadi sakit.”

[Diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari'ah pada bab Dzammul Jidal wal Khushumat fid Din dan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro pada bab at-Tahdzir min Shuhbati Qoumin Yumridhul Qulub wa yufsidul Iman, dengan sanad yang shohih]

Dari Abdullah ar-Rumi, ia berkata:

Datang seseorang kepada Anas bin Malik rodhiyallohu anhu, dan aku berada di sisinya, kemudian orang itu berkata :

“Wahai Abu Hamzah, aku bertemu dengan suatu kaum yang mendustakan adanya syafa’at dan adzab kubur.”

Anas berkata :

أولئك الكذابون ، فلا تجالسهم

“Mereka adalah pendusta, jangan kamu duduk bersama mereka!”

[Diriwayatkan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro pada bab at-Tahdzir min Shuhbati Qoumin Yumridul Qulub wa yufsidul Iman, dalam kitab Ushulus Sunnah dengan tahqiq al-Walid bin Muhammad Nabih hal. 31 dikatakan bahwa sanadnya la ba'sa bihi, wallahu a'lam]

Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma berkata ketika ditanya tentang kelompok Qodariyyah:

فإذا لقيت أولئك فأخبرهم أني بريء منهم وأنهم برآء مني

“Jika engkau bertemu mereka, kabarkan kepada mereka bahwa aku telah berlepas diri dari mereka dan bahwa mereka telah berlepas diri dariku.”

[Diriwayatkan Muslim dalam shohih-nya, hadits no. 7]

Dari al-Hasan (al-Bashri)*5* dan Muhammad (bin Sirin)[**], mereka berdua berkata :

لا تجالسوا أصحاب الأهواء ولا تجادلوهم ولا تسمعوا منهم

“Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul ahwa! janganlah kalian berdebat dengan mereka! dan janganlah kalian mendengar dari mereka!”

[Diriwayatkan Ibnu Sa'ad dalam ath-Thobaqot al-Kubro (7/172), sanadnya shohih]

Dari Marhum bin Abdil Aziz al-’Aththor, aku mendengar ayahku dan pamanku berkata : kami mendengar al-Hasan (al-Bashri, pent) melarang bermajelis dengan Ma’bad al-Juhani (seorang tokoh Qodariyyah, pent), ia (al-Hasan) berkata :

لا تجالسوه فإنه ضال مضل

“Jangan kalian bermajelis dengannya! Karena ia sesat dan menyesatkan.”

[Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah (2/391), al-Lalika'i dalam Syarah Ushul I'tiqod Ahlis Sunnah (4/637), Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah 'an Syari'atil Firqotin Najiyah (2/319), al-Ajurri dalam asy-Syari'ah (1/245), al-Firyabi dalam Kitabul Qodar (1/204)]

Dari Asma bin ‘Ubaid, ia berkata:

Dua orang ahlul ahwa datang kepada Ibnu Sirin, mereka berdua berkata:

“Wahai Abu Bakr, kami akan membacakan kepadamu satu hadits!”

Ibnu Sirin berkata:

“Tidak!”

Mereka berdua berkata:

“Kalau begitu kami akan membacakan kepadamu satu ayat dari Kitabullah?”

Ibnu Sirin berkata:

“Tidak! pergilah kalian dariku, atau aku yang pergi!” 

(Asma bin ‘Ubaid) berkata: Maka mereka berdua keluar, lalu beberapa orang bertanya:

“Wahai Abu Bakr, kenapa engkau (tidak mau) ketika mereka akan membacakan kepadamu satu ayat dari Kitab Allah ta’ala?”

Ibnu Sirin menjawab:

“Aku khawatir mereka berdua akan membacakan kepadaku sebuah ayat, lalu mereka menyimpangkannya, kemudian hal itu (penyimpangan tersebut) akan menetap di hatiku.”

[Diriwayatkan ad-Darimi dalam Sunan-nya (397), lihat Siyar A'lamin Nubala (11/285)]

Dari Ayyub, ia berkata : Abu Qilabah*6* berkata :

لا تجالسوا أهل الأهواء ولا تجادلوهم فإني لا آمن أن يغمسوكم في ضلالتهم أو يلبسوا عليكم ما كنتم تعرفون

“Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul ahwa dan jangan berdebat dengan mereka! karena aku tidak merasa aman jika mereka akan menenggelamkan kalian ke dalam kesesatannya atau men-talbis (membuat kesamaran) terhadap apa yang kalian anggap baik.”

[Diriwayatkan Ibnu Sa'ad dalam ath-Thobaqot al-Kubro (7/184), lihat as-Siyar (4/472) oleh adz-Dzahabi. Sanad ini shohih]

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri*7* berkata :

من أصغى بسمعه إلى صاحب بدعة، وهو يعلم، خرج من عصمة الله، ووكل إلى نفسه

“Barangsiapa mendengarkan ahli bid’ah dengan pendengarannya, padahal dia mengetahui, maka ia keluar dari penjagaan Allah dan (urusannya) diserahkan kepada dirinya sendiri.”

Beliau juga berkata :

من سمع ببدعة فلا يحكها لجلسائه، لا يلقها في قلوبهم

“Barangsiapa mendengar suatu bid’ah, maka janganlah ia menceritakannya kepada teman-teman duduknya, janganlah ia melemparkannya ke dalam hati-hati mereka.”

Setelah membawakan perkataan Sufyan ats-Tsauri di atas, Al-Hafidz adz-Dzahabi*8* berkata:

أكثر أئمة السلف على هذا التحذير، يرون أن القلوب ضعيفة، والشبه خطافة

“Kebanyakan para imam Salaf berpendapat dengan tahdzir ini, mereka melihat bahwa hati itu lemah dan syubhat-syubhat itu menyambar-nyambar.”

[Siyar A'lamin Nubala 7/261]

Dari Yahya bin Abi Katsir*9*, ia berkata :

إذا لقيت صاحب بدعة في طريق فخذ في طريق آخر

“Jika engkau bertemu dengan ahli bid’ah di suatu jalan, maka ambillah jalan yang lain.”

[Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (3/69), Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro pada bab at-Tahdzir min Shuhbati Qoumin Yumarridhunal Qulub wa yufsidul Iman, Ibnu Wadhdhoh dalam al-Bida' pada bab an-Nahyu 'anil Julus ma'a Ahlil Bida']

Al-A’masy*10* berkata :

كانوا لا يسألون عن الرجل بعد ثلاث: ممشاه ومدخله وألفه من الناس

“Mereka (para salaf) tidak bertanya tentang seseorang setelah jelas tiga : teman jalannya, teman masuknya dan teman pergaulannya.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah (2/476)]

Ibnu ‘Aun rahimahullåh berkata :

الذي يجالس أهل البدع أشد علينا من أهل البدع

“Orang yang bermajelis dengan ahlul bida’ itu lebih buruk bagi kami daripada ahlul bida’.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro (2/372)]

Dari Mubasyir bin Isma’il al-Halabi, ia berkata :

Dikatakan kepada al-’Auzai*11* : Sesungguhnya ada seseorang yang mengatakan:

“Aku akan bermajelis dengan ahlus Sunnah dan aku akan bermajelis dengan ahli bid’ah.”

Maka al-’Auza’i mengatakan :

“Orang ini mau menyamakan antara yang haq dan yang batil.”

[Diriwayatkan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro (2/456)]

Al-Imam al-’Auza’i juga berkata :

من ستر علينا بدعته لم تَخْفَ علينا أُلفته

“Barang siapa yang menutupi bid’ah-nya dari kami, tidaklah samar bagi kami pergaulannya.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro (2/479)]

Ma’mar*12* berkata :

Suatu ketika Ibnu Thowus sedang duduk, kemudian datang seorang Mu’tazili lalu berbicara, Ibnu Thowus*13* lalu memasukkan dua jari ke telinganya dan berkata kepada anaknya:

أي بني أدخل أصبعيك في أذنيك واشدد، ولا تسمع من كلامه شيئاً

“Wahai anakku, masukkan dua jarimu ke dua telingamu dan kencangkanlah! Jangan engkau dengarkan apa yang ia katakan sedikitpun!”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro (2/446), Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya' (1/218), lihat Siyar A'lamin Nubala (11/285)]

Dari Mufadhdhol bin Muhalhal as-Sa’di*14*, ia berkata:

لو كان صاحب البدعة إذا جلست إليه يحدثك ببدعته حذرته وفررت منه ولكنه يحدثك بأحاديث السنة في بدو مجلسه ثم يدخل عليك بدعته فلعلها تلزم قلبك فمتى تخرج من قلبك ؟

“Seandainya ahli bid’ah itu, jika engkau duduk bersamanya, lalu ia berbicara dengan bid’ahnya maka engkau akan mentahdzirnya dan lari darinya. Akan tetapi ia berbicara kepadamu dengan hadits-hadits sunnah pada majelisnya yang tampak, lalu bid’ahnya masuk kepadamu, kemudian bid’ah itu mengenai hatimu, maka kapan bid’ah itu akan keluar dari hatimu?”

[Diriwayatkan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro]

Al-Fudhail bin Iyadh*15* berkata :

الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف، وما تناكـر منها اختلف، ولا يمكن أن يكون صاحب سنة يمالئ صاحب بدعة إلا من النفاق

“Ruh-ruh adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih, dan tidak mungkin seorang sohibus Sunnah menolong sohibul bid’ah kecuali karena nifaq.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata :

لا تجلس مع صاحب بدعة ، فإني أخاف أن تنزل عليك اللعنة

“Janganlah engkau duduk bersama ahli bid’ah, karena sesungguhnya aku takut akan turun laknat untukmu.”

[Diriwayatkan oleh al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqod Ahlis Sunnah wal Jama'ah (1/137), dan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro dan dinukil oleh al-Barbahari dalam Syarhus Sunnah]

al-Imam Ibnu Baththoh*16* berkata -setelah perkataan al-Fudhail tadi- :

صدق الفضيل – رحمه الله –فإنا نرى ذلك عياناً

“al-Fudhail rohimahulloh benar, sesungguhnya kami melihat yang demikian dengan mata kepala kami.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro (2/456)]

Al-Imam Ibnul Mubarok*17* berkata :

ليكن مجلسك مع المساكين، وإياك أن تجلس مع صاحب بدعة

“Hendaklah majelismu itu bersama orang-orang miskin dan berhati-hatilah kamu dari duduk dengan ahli bid’ah.”

[Siyar A'lamin Nubala 8/399]

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata*18* : Dahulu jika datang beberapa orang ahlul ahwa kepada Malik*19*, ia berkata :

أما إني على بينة من ديني، وأما أنت، فشاك، اذهب إلى شاك مثلك فخاصمه

“Adapun aku, aku yakin pada agamaku. Adapun engkau adalah orang yang ragu. Pergilah kepada orang yang ragu semisalmu, lalu berdebatlah dengannya saja!”

[Siyar A'lamin Nubala 8/99]

Al-Imam Ahmad bin Hanbal*20* berkata dalam Ushulus Sunnah bahwa diantara Ushulus Sunnah (pokok aqidah/manhaj ahlus-sunnah) adalah :

وترك الخصومات والجلوس مع أصحاب الأهواء

“…dan meninggalkan debat kusir dan duduk-duduk bersama ash-habil ahwa…” 

Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga berkata :

أهل البدع ما ينبغي لأحد أن يجالسهم ولا يخالطهم ولا يأنس بهم

“Ahli bid’ah itu, tidaklah pantas bagi seseorang untuk bermajelis dengan mereka dan bercampur dengan bereka serta bersikap lunak kepada mereka.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro 2/475]

Abu Muhammad*21* berkata:

“وسمعت أبي وأبا زرعة : يأمران بهجران أهل الزيغ والبدع ويغلظان في ذلك أشد التغليظ وينكران وضع الكتب برأي في غير آثار. وينهيان عن مجالسة أهل الكلام والنظر في كتب المتكلمين ويقولان لا يفلح صاحب كلام أبدا ” قال أبو محمد : ” وبه أقول أنا “

“Aku mendengar ayahku*22* dan Abu Zur’ah*23*, mereka berdua memerintahkan untuk menghajr ahluz-zaigh wal-bida’ dan bersikap keras dalam hal itu dengan keras yang sangat, dan mereka berdua mengingkari penulisan kitab dengan ro’yi (pendapat) saja tanpa ada atsar. Dan mereka berdua melarang bermajelis dengan ahlul kalam dan melihat kitab-kitab ahli kalam, dan mereka berkata

“Tidak akan beruntung ahli kalam selamanya.” 

Abu Muhammad berkata:

“Dan aku juga berpendapat seperti itu”

[Ushul I'tiqod Ahlis Sunnah wal Jama'ah (1/179)]

Dan masih banyak lagi perkataan para salaf yang melarang dari bermajelis dengan ahli bid’ah, bisa dilihat dalam kitab-kitab Aqidah Salaf seperti al-Ibanah al-Kubro, Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, asy-Syari’ah, Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, dll.

Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi dalam Syarah Ushulus Sunnah-nya (hal. 8, pdf versi sahab.org) ketika menjelaskan tentang ‘meninggalkan bermajelis dengan ash-habul ahwa’ berkata:

“Karena bermajelis dengan ash-habul ahwa’ kebanyakan akan menyebabkan kesesatan. Dan banyak orang yang tertipu dengan apa yang ada pada mereka dari ilmu dan kecerdasan, maka mereka bercampur dengan ahli bida’ dan bergaul dengan mereka, lalu Alloh menyerahkan mereka kepada diri-diri mereka sendiri sehingga mereka jatuh pada kesesatan.

Ini adalah perkara yang bisa dirasakan, dan al-Imam Ibnu Baththoh rohimahulloh telah mengisyaratkan pada yang semisal dengan ini, ia berkata :

“Kami mengenal beberapa orang yang dulunya mereka mencela dan melaknat ahlul bida’, kemudian (suatu saat) mereka bermajelis dengan ahlul bida’ dan bergaul dengan mereka, maka jadilah mereka bagian dari ahlul bida’.”

Dan ini dapat dirasakan pada setiap zaman dan tempat, sebagian orang telah tertipu dengan diri-diri mereka dari orang-orang besar, maka sangat disayangkan mereka jatuh ke jurang bid’ah, dan kami tidak ingin menyebutkan nama-nama mereka, mereka sudah ma’ruf di kalangan thullabul ilmi.”

Asy-Syaikh Salim al-Hilali dalam kitabnya al-Bid’ah wa Atsaruha as-Sayyi’ fil Ummah (hal 17) berkata:

“Begitulah ahli bid’ah, mungkin dia akan melemparkan bid’ahnya ke dalam hatimu dengan ia membagus-baguskan bid’ahnya itu, dan mungkin dia akan membuat hatimu menjadi sakit, dari apa-apa yang engkau saksikan dari perbuatannya dan apa-apa yang engkau dengar dari perkataannya dalam perkara-perkara yang menyelisihi syari’at.”

Asy-Syaikh Salim al-Hilali setelah membawakan atsar para imam salaf berkata (hal 18):

“Dengan apa yang telah lalu dari perkataan para ‘ulama, jelaslah bagi kita bahwa bermajelis dengan ahli bid’ah berbeda dengan mendakwahkan mereka kepada kebaikan dan menjelaskan al-haq kepada mereka, dan berdebat dengan mereka untuk mematahkan syubhat-syubhat mereka*24*], karena hal ini termasuk amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan sebuah ushul dari ushul da’wah ilalloh, Alloh telah memerintahkannya dalam kitab-Nya, Alloh berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ…

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…”

[QS Ali Imron : 104]

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda memberi dalam rangka memberi pengarahan pada sebuah perkara yang umum kepada semua kaum muslimin, masing-masing sesuai dengan kemampuannya :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian (dengan hati, pent) adalah selemah-lemahnya iman.”

Jika datang larangan dari para ‘ulama dari bermajelis dengan ahli bid’ah, maka maknanya bukan berarti seorang yang ‘aalim dengan kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya tidak mendakwahkan mereka kepada kebaikan, tidak membantah mereka dan tidak medekati majelis-majelis mereka untuk tujuan ini, akan tetapi maksud para ‘ulama di sini adalah kekhawatiran bagi orang yang tidak mampu untuk menolak syubhat-syubhat mereka (ahli bid’ah) dari dirinya sehingga akan berpengaruh para hatinya, sebagaimana perkataan Abu Qilabah yang telah lalu.”

Akan tetapi para ‘ulama telah melarang debat terbuka di depan umum/orang-orang awam di tempat-tempat terbuka

Dan yang lebih buruk lagi adalah seseorang yang melindungi ahli bid’ah dan membela mereka, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

..وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا..

“…dan Allah melaknat orang yang melindungi seorang muhdits*25* ]…”]

[HR. Muslim no. 1978, Ahmad no. 855, 858, 954 dan 1306; an-Nasa'i no. 4422, Ibnu Hibban no. 6604 dan lain-lain]

Allahul Musta’aan, kita berlindung kepada Alloh dari sifat ifroth/ghuluw/melampaui batas dan tafrith/mengampang-gampangkan, dan semoga Alloh memperbaiki keadaan kita sekarang ini…

Wallahu A’lamu bish Showaab.

***

MAROJI :

- Ushulus Sunnah, oleh al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Syarah & tahqiq oleh al-Walid bin Muhammad Nabiih.

- Syarhu Ushulis Sunnah, oleh asy-Syaikh Abu Muhammad Robi’ bin Hadi al-Madkholi. Versi pdf Sahab.org.

- Al-Bida’ wa Atsaruha as-Sayyi’ fil Ummah, oleh Asy-Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilali. Cet. Al-Maktabah al-Islamiyyah.

- Irsyadus Saari ila Taudhih Syarhis Sunnah, oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi. Sahab.org.

- Maufiq Ahlis Sunnah min Ahlil Ahwa wal Bida’, oleh Tholibul Ilmi (tanpa nama). Sahab.org.

Kitab-kitab dari Al-Maktabah asy-Syamilah v.1 & v.2 :

- Kitab-kitab Hadits
- Ma’alimut Tanzil (Tafsir al-Baghowi), oleh al-Imam al-Baghowi.
- Tafsir al-Qurthubi, oleh al-Imam al-Qurthubi.
- Siyar A’lamin Nubala, oleh al-Imam adz-Dzahabi.
- Al-Ibanah al-Kubro, oleh Ibnu Baththoh al-Ukbari.
- Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah, oleh Hibbatulloh al-Lalika’i.
- Syarhus Sunnah, oleh al-Imam al-Barbahari.
- Hilyatul Auliya, oleh Abu Nu’aim al-Ashbahani.
- Tahdzibut Tahdzib & Taqribut Tahdzib, oleh al-Imam Ibnu Hajar al-Asqolani.
- Al-Kasyif, oleh oleh al-Imam adz-Dzahabi .
- Rowat at-Tahdzibain, al-Maktabah asy-Syamilah v.1 & v.2.
- dll.

Sumber: www.abuzuhriy.com
Catatan Kaki:

1. Adh-Dhohhak bin Muzahim al-Hilali -rohimahulloh- (Shighor tabi’in, dari thobaqot ke-5 –yakni dalam at-Taqrib Ibnu Hajar, dan begitu untuk seterusnya–) wafat setelah 100 H, seorang ‘ulama ahli tafsir, murid dari Sa’id bin Jubair (muridnya Ibnu ‘Abbas). Namun para ‘ulama khilaf apakah dia bertemu dengan Ibnu ‘Abbas atau tidak (lihat Tahdzibut Tahdzib 4/398). Wallahu A’lam 

2. Juwaibir bin Sa’id al-Azdi (shighor tabi’in, dari thobaqot ke-5) adalah seorang yang dho’if dalam meriwayatkan hadits, akan tetapi para ‘ulama menerima riwayatnya dalam masalah tafsir dari adh-Dhohhak (Lihat Tahdzibut Tahdzib 2/124). -rohimahulloh- 

3. Ibnu ‘Aun namanya adalah Abu ‘Aun Abdulloh bin ‘Aun al-Bashri, dari thobaqot ke-6 (sezaman dengan shighor tabi’in), wafat tahun 150 H. Ia seorang ‘ulama besar di zamannya, rowi yang tsiqoh tsabt fadhil, shahabat Ayyub as-Sikhtiyani (Lihat at-Taqrib 1/317). -rohimahulloh- 

4. Muhammad bin Sirin, Abu Bakar al-Anshori, dari thobaqot ke-3 (tabi’in wustho), wafat tahun 110 H, maula Anas bin Malik, seorang kibar ‘ulama tabi’in. al-Hafidz Adz-Dzahabi berkata : “Tsiqoh hujjah, salah seorang ‘ulama besar, ilmunya luas.” (Lihat al-Kasyif 1/178) -rohimahulloh- 

5. al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri, dari thobaqot ke-3 (Tabi’in wustho), wafat tahun 110 H. Seorang Imam tabi’in yang faqiih dan masyhur. -rohimahulloh-. 

6. Abu Qilabah Abdulloh bin Zaid al-Jarmi, dari thobaqot ke-3 (Tabi’in wustho), wafat tahun 104 H dan dikatakan 107 H, al-Hafidz Adz-Dzahabi berkata “salah seorang imam tabi’in.” (Lihat al-Kasyif 1/554), Ibnu Hajar berkata : “Tsiqoh fadhil, banyak meriwayatkan hadits secara mursal.” (Lihat at-Taqrib 1/304). -rohimahulloh- 

7. Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri (W. 161 H), dari thobaqot ke-5 (shighor tabi’in). Seorang imam, ‘Aabid, hafidz, faqiih, hujjah. -rohimahulloh- 

8. Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi (W. 748 H). al-Imam al-Hafidz, ahli Jarh wa Ta’dil & tarikh, Muhaddits. Penulis Siyar A’lamin Nubalaa’, al-Muwqidzoh, Mizanul I’tidal, dll. -rohimahulloh- 

9. Abu Nashr Yahya bin Abi Katsir (W. 132 H), dari thobaqot ke-5 (shighor tabi’in). Salah seorang imam di zamannya. -rohimahulloh- 

10. Abu Muhammad Sulaiman bin Mihron al-A’masy, dari thobaqot ke-5 (shighor tabi’in), wafat tahun 147/148 H H. Seorang tsiqoh hafidz, ahli qiro’ah. -rohimahulloh- 

11. Abu Amr Abdurrahman bin Amr al-Auza’i, dari thobaqot ke-7 (Kibar tabi’ut tabi’in), wafat tahun 157 H. Seorang tsiqoh jaliil, syaikhul Islam, al-hafidz, faqiih, seorang yang zuhud. -rohimahulloh- 

12. Abu Urwah Ma’mar bin Rosyid al-Azdi (W. 153 H), dari thobaqot ke-7 (kibar tabi’ut tabi’in). Seorang yang tsiqoh tsabt faadhil, ‘ulamanya Yaman ketika itu. 

13. Abu Muhammad Abdulloh bin Thowus al-Yamani (W. H), dari thobaqot ke-6 (sezaman dengan tabi’in). Seorang yang tsiqoh fadhil, ahli ibadah 

14. Abu Abdirrohman Mufadhdhol bin Muhalhal as-Sa’di al-Kufi (W. 167H, dari thobaqot ke- 7, Kibar Tabi’ut Tabi’in). Ia seorang ‘ulama besar di zamannya. Ibnu Hajar berkata tentangnya (at-Taqrib 1/544) : “Tsiqoh Tsabt, Nabiil ‘Aabid” 

15. Abu ‘Ali Fudhail bin Iyadh bin Mas’ud at-Tamimi (W. 187 H, dari thobaqot ke-8 -yakni dalam at-Taqrib Ibnu hajar, begitu seterusnya- Tabi’ut tabi’in wustho), Ibnu Hajar berkata : “Tsiqoh, ahli ibadah, seorang imam.” (Lihat at-Taqrib 1/448), Syaikh-nya Ibnul Mubarok 

16. Abu Abdillah Ubaidullah bin Muhammad bin Baththoh al-Ukbari (W. 387 H). Seorang ‘ulama faqiih madzhab Hanbali, ahli ibadah, muhaddits 

17. Abu Abdirrahman Adulloh bin al-Mubarok al-Handzoli (W. 181 H), dari thobaqot ke-8 (tabi’ut tabi’in wustho). Tsiqoh tsabt, faqiih, aalim, mujahid, syaikh-nya negri Khurosan 

18. Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Qurosyi (150 – 204 H, dari thobaqot ke-9, shigor atba’ut tabi’in). Imam masyhur, faqiih. 

19. Abu Abdillah Malik bin Anas al-Madani (93 – 179 H, dari thobaqot ke-7, kibar tabi’ut tabi’in). Imam Darul Hijroh, faqih, masyhur 

20. Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani, dari thobaqot ke-10, wafat tahun 241 H. Imam yang masyhur, dijuluki sebagai Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah, al-Hafidz, faqiih, hujjah 

21. Abu Muhammad Aburrohman bin Muhammad bin idris ar-Rozi, lebih dikenal dengan Ibnu Abi Hatim (W. 327 H). Penulis kitab al-Jarh wat Ta’dil, Adz-Dzahabi berkata tentangnya (Tadzkirotul Huffadz 3/729) : “al-Imam, al-Hafidz, an-Naqid, Syaikhul Islam” 

22. Abu Hatim Muhammad bin Idris ar-Rozi (195 – 277 H, dari thobaqot ke-11). Adz-Dzahabi berkata (Tadzkirotul Huffadz 2/567) : “al-Imam al-Hafidz al-Kabir” 

23. Abu Zur’ah Ubaidullah bin Abdil Karim ar-Rozi (200 – 264 H, dari thobaqot ke-11). Adz-Dzahabi berkata (as-Siyar 13/65) : “al-Imam, Sayyidul Huffadz” 

24. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu ‘Abbas ketika beliau mendatangi orang-orang Haruriyyah (Khowarij) lalu beliau mematahkan syubhat-syubhat mereka. Kisah ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrok (2/164) hadits no. 2656, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro (8/179) hadits no. 16517, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro (5/165) hadits no. 8575, dll.

Dan sebagaimana yang dilakukan oleh asy-Syaikh al-Albani ketika menasehati orang-orang takfiriyyun, dll. Hal ini sesuai dengan firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah ke jalan Robb-mu dengan hikmah dan dengan nasehat yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb-mu lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

[QS. an-Nahl : 125 ]

25. Muhdits di sini bermakna mubtadi’ (ahlul bid’ah) atau orang zholim atau orang yang berbuat maksiat.

[Lihat ‘Umdatul Qori’ 25/43 oleh Badruddin al-’Aini ↩ 


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya ( An Nisa : 48)"

Nasehat Imam Empat Mazhab," Jangan fanatik kepada kami "!

Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab Hanafi)
Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)

2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145) Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.” Di dalam sebuah riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari.”

3. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah ta’ala dan kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50)

Imam Malik (Imam Mazhab Maliki)
Beliau adalah Malik bin Anas, dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)

2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3.Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang hukum menyela-nyelan jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, ‘Tidak ada hal itu pada manusia’. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu’. Maka Imam Malik berkata, ‘Apakah itu?’ Aku berkata, ‘Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggosok antara jari-jemari beliau dengan kelingkingnya.” Maka Imam Malik berkata, ‘Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya baru kali ini.’ Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi tentang hal ini, lalu beliau (Imam Malik) pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari.” (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

Imam Asy-Syafi’i (Imam Mazhab Syafi’i)
Beliau adalah Muhammad bin idris Asy-Syafi’i, dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H. Beliau rahimahullah berkata,

1. “Tidak ada seorang pun, kecuali akan luput darinya satu Sunnah Rasulullah. Seringkali aku ucapkan satu ucapan dan merumuskan sebuah kaidah namun mungkin bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah pendapatku” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)

3. ”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

4. ”Apabila telah shahih sebuah hadist, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu daripadaku tentang hadist dan para periwayatnya. Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya.” (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)

6. “Setiap masalah yang jika di dalamnya terdapat hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam menurut para pakar hadits, namun bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku rujuk di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Hilyah 9/107, Al-Harawi, 47/1)

7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya adalah hadits yang shahih, maka ketahuilah, bahwa pendapatku tidaklah berguna.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)

8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu taklid mengikutiku.” (Ibnu Asakir, 15/9/2)

9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)

Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab Hambali)

Beliau Adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang dilahirkan pada tahun 164 Hijriyah di Baghdad, Irak. Beliau berkata,

1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)

2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-wr1)” (Ibnul Abdil Barr di dalam Al-Jami`, 2/149)

3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi jurang kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182).

Selengkapnya klik DI SINI

Demikianlah ucapan para Imam Mazhab. Masihkah kita taqlid buta kepada mereka, atau taqlid kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?


Ilmu & Amal

Tuntutan ilmu adalah amal & tuntutan amal adalah ilmu . Amal hati/batin dinilai dengan keikhlasan & amal lahir dinilai dengan ketaatan mengikuti sunnah Rasul

Tauhid

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ’Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu kaum berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk memberi suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran- lembaran telah kering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata,” Hadist ini hasan shahih). ☛ ☛ ☛ “Jagalah Allah, maka engkau mendapati-Nya dihadapanmu. Kenalilah Allah ketika senang, maka Dia akan mengenalmu ketika susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.”(Dalam riwayat selain at-Tirmidzi)

Berpegang Teguh Kepada Al-Kitab dan As-Sunnah


Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ada sebuah kaum yang mengklaim cinta kepada Allah, maka Allah menurunkan ayat (Al-Maidah) ini sebagai ujian kepada mereka.”
Ayat (Al-Maidah) di atas mengandung dalil bahwa siapa saja yang mengklaim bahwa dirinya adalah wali Allah atau dirinya cinta kepada Allah akan tetapi dia tidak mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia bukanlah termasuk wali-wali Allah, bahkan dia termasuk dari wali-wali setan.

Di dalam ayat ini juga terdapat penyebutan ciri-ciri dan tanda cinta kepada Allah, yaitu harus mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Di dalam ayat ini juga terdapat penetapan sifat cinta dari kedua belah pihak, yaitu cinta kaum mukminin kepada Allah dan cinta Allah kepada mereka. Kecintaan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman, itu lebih tinggi daripada sekedar rahmat dan kebaikan-Nya kepada mereka.


Nasehat

“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. (Mawai’zh lilImam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185 )

Dampak Buruk Makan Harta Haram

Hidayah Ilahi

CINTA HAKIKI

Sesungguhnya syirik itu melenyapkan amalan dan menyebabkan kekal di dalam neraka
Nilai sebuah ikhtiar/usaha kita bukanlah dilihat dari hasil yang diraih.
Tapi Mujahadah/proses yang baik dan benarlah yang menentukan nilainya
Dan hal itu tidak akan bernilai manakala tidak dilakukan secara ikhlas berlandaskan Tauhid yang benar .

Gerakan Sholat Yang Benar

www.loogix.com. Animated gif

Jadwal Ta'lim Di Balikpapan

Bersyukur & bersabarlah, kalau tidak , kita di usir oleh ALLAH SWT Sang Pemilik Jagat ini

  • "Barangsiapa yang tidak bersyukur atas nikmatKu, tidak bersabar atas bala yang Kutimpakan, dan tidak ridho terhadap keputusanKu, keluarlah dari langitKu dan carilah Tuhan selain diriKu".

Menjauhi Perdebatan Dalam Hal Agama

Ma’n bin Isa berkata, “Suatu hari, (al-Imam) Malik bin Anas rahimahullah keluar dari masjid dalam keadaan bersandar pada tanganku. Ada seorang lelaki -yang dipanggil Abul Huriyah, yang tertuduh berpehaman Murji’ah- menyusulnya dan mengatakan, ‘Wahai hamba Allah, dengarkanlah sesuatu yang akan aku sampaikan kepadamu. Aku akan beradu hujah denganmu dan memberitahumu tentang pemikiranku.’

Al-Imam Malik rahimahullah bertanya, ‘Bagaimana jika engkau mengalahkanku (dalam perdebatan)?’

Dia menjawab, ‘Kalau aku mengalahkanmu, engkau harus mengikuti pemikiranku.’

Al-Imam Malik rahimahullah bertanya lagi, ‘Kalau ada orang lain yang kemudian mendebat lantas mengalahkan kita?’

Dia menjawab, ‘Kita ikuti dia.’

Al-Imam Malik rahimahullah menukas, ‘Wahai hamba Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dengan satu agama. Namun, aku lihat engkau berpindah dari satu agama ke agama yang lain’.” (Asy-Syari’ah, al-Ajurri, hlm. 62)